Ternyata Ini Penyebab Anak Pintar Berakhir Standar






Dalam kehidupan ini, kita banyak mendapatkan anak yang pandai saat ia kecil. Ia juara 1-3 terus-terusan dari SD, SMP, SMA serta berprestasi sampai perguruan tinggi. Tetapi pada akhirnya, beberapa dari mereka yang rupanya saat masuk di dunia kerja malah jadi karyawan yang biasa saja serta condong tidak berprestasi.
Saya mempunyai beberapa rekan yang cukup pandai serta alumnus paling baik saat wisuda, tapi anehnya malah jadi karyawan biasa saat masuk di dunia kerja serta condong tidak punyai kreasi saat kerja. Lalu kita mulai menjustifikasi jika mungkin itu ialah nasib nya, mungkin itu ialah takdir dan sebagainya.

Tapi silahkan kita lihat lebih ilmiah kenapa ini dapat berlangsung. Rupanya, ada unsur yang memengaruhi kenapa beberapa anak saat kecil benar-benar berprestasi dalam soal akademik, tetapi dapat jadi standard malah di pucuk kehidupannya saat dewasa kelak. Serta kita coba bahas kenapa ini dapat berlangsung.Beri pujian Kepandaian Anak Ialah Awal Permasalahannya

Beberapa orang tua yang demikian bangga lihat anaknya juara matematika serta beri pujian anaknya yang rajin belajar, serta pasti bisa. Beberapa orang tua yang beri pujian jika anaknya memang paling pintar di kelas sebab sukses juara kelas semasa tiga tahun beruntun, kemungkinan tidak ada yang keliru.

Tapi tahukah Anda, jika beri pujian intelektualitas anak sejak dari ia kecil terus-terusan, rupanya akan jadikan anak berasa jika ia memang orang yang pandai serta tidak lagi ada orang yang lebih bagus dari ia kecuali dianya. Apabila ia selanjutnya mendapatkan ada orang yang bertambah pandai darinya satu hari kelak, karena itu ia tidak terima serta makin membuatnya tertekan serta tidak bernafsu lagi untuk belajar.

Profesor Carol Dweck dari Stanford University mempelajari lebih dari 15 tahun, mendapatkan jika orang dewasa, apa itu guru atau orangtua, yang tetap beri pujian kepandaian anak dibanding usaha yang dilakukan, malah akan jadikan anak itu nantinya jadi pribadi yang mempunyai sudut pandang yang statis.

Anak itu akan berasa hanya ia yang terpintar, serta saat ada yang menaklukkannya, karena itu ia rawan pada stres, depresi dan lain-lain.

Jadi, mulai sekarang ini, bila Anda seorang guru, jangan sampai beri pujian terlalu berlebih beberapa anak yang pandai sekarang ini, tapi lebih bagus puji lah proses yang mereka kerjakan secara baik sejauh ini, walau hasilnya dapat jadi berlainan. Dalam satu peluang untuk memberi kalimat singkat di sekolah anak saya, saya sampaikan ini secara jelas,"Tidak ada anak yang bodoh, yang ada cuma lah orang dewasa (orangtua,guru dan lain-lain) yang belum dapat mendapatkan talenta anak ini sebetulnya ada dimana untuk mengoptimalkan potensinya. Rangking cuma lah angka, tak perlu dibanggakan terlalu berlebih, karenanya tidak jamin hari esok beberapa anak kita." (TauRa)

Menghormati proses anak belajar bertambah indah dibandingkan sebatas beri pujian hasil perolehannya. Saat proses dilaksanakan secara benar, karena itu biasanya hasilnya akan berjalan bersama-sama secara baik.

Tidak jadi masalah anak kita sekarang ini jadi juara berapakah, yang penting ia telah jalankan proses nya secara benar lepas apa saja hasilnya, karena itu pekerjaan kita untuk orangtua serta guru lah yang menuntunnya ke depan.Beri pujian Usaha Anak ialah Awal Keberhasilannya


 

Postingan populer dari blog ini

Konjungsi Planet: Fenomena Unik dan Indah Menghiasi Langit Malam

Kisah Kecilku yang Bermakna Besar bersama Radit

Jurnalisme Online dan Jurnalisme Multimedia